Kamis, 18 Februari 2016

Filosofi Nama

source image : http://bellejar.ca/
Perkenalkan, nama saya Ira Cucu Cidar. Saya lebih suka dipanggil Icus daripada Ira, Cucu atau bahkan Cidar walaupun ada sebagian teman saya yang memanggilnya begitu. Surat ini saya tulis untuk siapa saja yang mau membaca. Untuk siapa saja yang mengenal ataupun tidak mengenal saya.

Hal pertama yang diucapkan orang-orang ketika bertanya nama saya adalah; “Nama kamu unik, ya?” “Mbah kamu namanya Cidar dong?” “Lucu ya namanya, langka” “Cidar itu nama marga kamu ya?” hingga pertanyaann aneh seperti “Kamu orang Bandung ya?” padahal tidak ada darah Sunda yang mengalir di tubuh orangtua saya. Saya hanya tersenyum tipis sambil menahan pening ketika mereka tak henti-henti menanyakan filosofi nama saya.

Sebenarnya saya sudah bosan dan hampir muak setiap ditanyai arti nama yang melekat pada diri saya. Pernah saat kuliah perdana, hampir setiap dosen menanyai arti nama saya. Pertanyaannya hampir sama, hingga saya pernah memutuskan untuk menulis arti nama saya pada kertas, lalu menempelkannya di jidat supaya orang-orang berhenti menanyainya. Namun ide gila itu hanya saya pendam dalam hati, dan saya kembali melanjutkan menulis materi dari dosen yang cukup membosankan.

Nama saya Ira Cucu Cidar. Cidar sendiri merupakan singkatan nama Mbah dari Bapak dan Ibu saya. Ci itu Cipto dan Dar adalah Darminto. Jadilah satu kata yang cukup asing didengar orang-orang. Cidar. Orang tua saya memang kreatif dan memiliki cara untuk ‘menandai’ anaknya dengan khas.

Entah mengapa, saya kurang suka dipanggil Ira. Saya lebih suka dipanggil Icus (Nama panggilan sejak SMP) ataupun Cece (Hanya orang tertentu yang memanggil saya dengan sebutan ini). Tidak ada alasan apapun. Rasanya seperti ketika kalian makan indomie dengan toping cokelat ataupun ovomaltine. Aneh, kan. Bukannya tidak mensyukuri nama yang diberi oleh orangtua, tapi saya merasa menjadi orang lain ketika dipanggil Ira. Aneh? Yes, I am.

Surat ini memang (sedikit) tidak penting, namun entah mengapa saya ingin menulisnya. Mungkin bagi yang sudah terlanjur membacanya, kalian akan mengumpat kesal karena telah meluangkan waktu untuk hal-tidak-sepenting-ini. Jadi, maafkan.


Dari wanita yang (agak) keras kepala dan enggan dipanggil Ira.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar