![]() |
| source image : http://bellejar.ca/ |
Perkenalkan, nama saya Ira Cucu Cidar. Saya lebih
suka dipanggil Icus daripada Ira, Cucu atau bahkan Cidar walaupun ada sebagian
teman saya yang memanggilnya begitu. Surat ini saya tulis untuk siapa saja yang
mau membaca. Untuk siapa saja yang mengenal ataupun tidak mengenal saya.
Hal pertama yang diucapkan orang-orang ketika
bertanya nama saya adalah; “Nama kamu unik, ya?” “Mbah kamu namanya Cidar
dong?” “Lucu ya namanya, langka” “Cidar itu nama marga kamu ya?” hingga
pertanyaann aneh seperti “Kamu orang Bandung ya?” padahal tidak ada darah Sunda
yang mengalir di tubuh orangtua saya. Saya hanya tersenyum tipis sambil menahan
pening ketika mereka tak henti-henti menanyakan filosofi nama saya.
Sebenarnya saya sudah bosan dan hampir muak setiap
ditanyai arti nama yang melekat pada diri saya. Pernah saat kuliah perdana,
hampir setiap dosen menanyai arti nama saya. Pertanyaannya hampir sama, hingga
saya pernah memutuskan untuk menulis arti nama saya pada kertas, lalu
menempelkannya di jidat supaya orang-orang berhenti menanyainya. Namun ide gila
itu hanya saya pendam dalam hati, dan saya kembali melanjutkan menulis materi
dari dosen yang cukup membosankan.
Nama saya Ira Cucu Cidar. Cidar sendiri merupakan
singkatan nama Mbah dari Bapak dan Ibu saya. Ci itu Cipto dan Dar adalah
Darminto. Jadilah satu kata yang cukup asing didengar orang-orang. Cidar. Orang
tua saya memang kreatif dan memiliki cara untuk ‘menandai’ anaknya dengan khas.
Entah mengapa, saya kurang suka dipanggil Ira. Saya
lebih suka dipanggil Icus (Nama panggilan sejak SMP) ataupun Cece (Hanya orang
tertentu yang memanggil saya dengan sebutan ini). Tidak ada alasan apapun.
Rasanya seperti ketika kalian makan indomie dengan toping cokelat ataupun
ovomaltine. Aneh, kan. Bukannya tidak mensyukuri nama yang diberi oleh
orangtua, tapi saya merasa menjadi orang lain ketika dipanggil Ira. Aneh? Yes, I am.
Surat ini memang (sedikit) tidak penting, namun
entah mengapa saya ingin menulisnya. Mungkin bagi yang sudah terlanjur
membacanya, kalian akan mengumpat kesal karena telah meluangkan waktu untuk
hal-tidak-sepenting-ini. Jadi, maafkan.
Dari wanita yang (agak) keras kepala dan enggan
dipanggil Ira.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar