Sabtu, 13 Februari 2016

Diam-diam Mengagungkanmu

source image: sarahlinda1999.tumblr.com
Tiga mantra ajaib yang mampu membuat saya tertidur lelap. Musik klasik, lelah, dan pesan singkat darimu.
Dua hal yang paling saya benci dari Februari. Hujan dan hari tanpa kamu.
Satu sisi yang tidak saya ketahui darimu. Rahasia yang tak pernah habis.

Saya ingin mengupas habis rahasia-rahasia yang mengulitimu. Kamu sarat akan hal-hal tak terduga, jadi biarkan saya menguak hal yang bersembunyi dalam dadamu. Saya penasaran, apakah saya ada di antaranya? Apakah pernah walaupun hanya sekali, kamu memikirkan saya? Apakah pernah?
Jika kamu bertanya pada saya, saya melakukannya berkali-kali, hampir setiap hari. Hingga saya letih sendiri. Bertanya-tanya dalam hati, apakah tidurmu nyenyak tadi malam? Apakah kamu masih gemar mengoleksi kemaja kotak-kotak? Apakah kamu ingin saya menemanimu menyesap susu cokelat di antara senja yang menguning? Ah, sepertinya pertanyaan terakhir sudah pasti jawabannya adalah tidak. Saya sadar diri sebelum kamu menjawabnya.

Pria scorpion, terimakasih telah mengisi hati dan hari saya dengan macam-macam peristiwa. Saya tidak akan memaksa kamu untuk mencintai saya. Mungkin sulit bagimu, yang baru saja putus cinta dengan kekasih lamamu. Mungkin sulit bagimu untuk menerima hati baru. Jadi, izinkan saya untuk perlahan-lahan menyelinap masuk dan membantumu menyembunyikan rasa sakit yang dulu-dulu. Bukankah akan lebih mudah melupakan seseorang dengan menemukan penggantinya?


Dari wanita yang diam-diam mengagungkanmu.

Kamis, 11 Februari 2016

Thank You, IMA!

Anak-anak alaynya IMA
Untuk sahabat-sahabatku. Eka, Esti, Tika dan Reza. Anak-anak IMA yang kerap mengisi hari-hari di Semarang

HAI! Apa kabz guys? Masih sehat kan? Masih ngapak? Masih suka wifi-an di gedung A1? Eh, sekarang kan lagi liburan semester. Hahaha. Aku kangen sama capcin kantin A1, btw. Pasti Reza juga. You’re my partner nyapcin everytime. Nggak paham sama nih anak satu, kayaknya dia udah kecanduan sama cappucino cincau A1.
Nggak tau sejak kapan kalian mendeklarasikan diri sebagai IMA, tapi aku ngerasa nyaman sama kalian. Bukan ‘Nyaman’ yang itu ya, Za (you know what I mean). HAHAHA. IMA, sesuai singkatannya Ikatan Mahasiswa Alay (please jangan ketawa sama singkatan absurd ini) bukan geng kok. Bukan kumpulan ibu-ibu arisan. Bukan kang begal apalagi remaja masjid. Walaupun namanya emang alay, tapi kita bukan abege-abege SMP yang suka haha-hihi di mall sambil main timezone lho. Kita cuma orang-orang yang dipertemukan gara-gara tugas sinematografi. Masih inget nggak? Tugas One minute talk? Program andalan kita semua, INSPIRING. WAHAHAHA. Berkat Bu Rafika kita jadi sedeket ini. Walaupun tugasnya sempet bikin gondok, but makasih Bu Rafika.
            Kalian emang ajaib. Cuma Eka yang sedikit paling waras diantara kami. Yang lainnya? Beuh jangan ditanya. Esti, si biduan pantura yang ngomongnya kayak kereta express. Cepet banget. Kalau ngomong suka pake nyanyi-nyanyi segala macem Ipul Jamil. Suka banget sama Jovial (padahal menurutku gantengan Andovi). Sampai sekarang masih mengidolakan mas *tuuuttt* yang kami berempat nggak tau siapa itu mas *tuuuttt*. Reza, si makhluk-malam-yang-doyan-tidur-di-kelas-tapi-otaknya-encer juga sama gilanya. Paling nyantai kalo ada tugas, tapi IPK-nya selalu cumlaude. Ya, dia emang titisan Einstein. Tika, yang sekarang udah nggak satu kampus sama kami. Calon perawat yang lagi gencar-gencarnya ngidolain Jovial. Kayaknya dia mau saingan sama Esti. Suka bikin baper cowo-cowok. Mungkin para lelaki di rombel dua udah dibaperin sama Tika semua. Nah, kalo Eka makhluk paling baper. Tempat curhat paling asyik dan anak yang paling sering nginep di kosanku. Doyan banget selfie, dan bikin kata-kata bijak macem Mario Teguh. Ndeskripsiin kalian emang nggak ada abisnya, ya. Hahahaha.
Aku sampai nggak bisa berhenti ketawa kalau udah ngumpul bareng kalian. Apalagi kalo udah wifi-an atau ngerjain tugas bareng. Uh, orang-orang sampe ngeliatin kita. Heran kali, ada manusia yang cekakak cekikik nggak abis-abis. Selalu inget sama kalimat andalannya Tika, “Kalian nyadar nggak sih. Kalian tuh paling berisik disini.” Yah, jadi kangen deh L.
            Walaupun jarak antara Semarang sampai Tegal memisahkan kita, tetep semangat ya guys. Tika, kita selalu nunggu kedatangan kamu buat ke Semarang lagi. Tapi jangan lupa bawain olos. Hahaha. Tahu aci juga nggak papa deh, Tik. Semoga cepet-cepet jadi perawat dan dapet pak dokter ganteng. Sekarang kan udah jadi maba lagi, dapet pak dokternya yang lebih fresh dong, Tik. HAHAHA.
            Kok jadi agak panjang ya? Padahal awalnya Cuma mau say hi aja sama kalian. Soalnya aku lagi kangeeeennn berat gara-gara liburan semester yang nggak rampung-rampung ini. Pasti abis ini Esti bilang, “Kuliah pengen libur, libur pengen kuliah.” Yeah, that’s life.
            Hal yang bakal paling aku kangenin setelah wisuda nanti, mungkin adalah kalian. Kumpul bareng kalian, ketawa-ketiwi. Nugas walaupun yang dibicarain sebenernya bukan tugas, sih. Semoga kita bisa wisuda bareng ya. Kita pakai toga bareng, foto, lalu bareng-bareng teriak,”MAKKK ANAKMU WIS WISUDAA!” Hihi, kebayang nggak sih? Jadi nggak sabar pengen wisuda, ya (Sok-sokan padahal belum ngarasain PPL, KKN dan bikin skripsi).
Last but not least, I miss you. Makasih udah selalu ada entah itu saat sedih ataupun senang. Semoga kita semua bisa sukses, AMIN! THANK YOU IMA!

Dari pacar gelapnya Cakka Nuraga.


Rabu, 10 Februari 2016

Terimakasih Untuk Diri Saya Sendiri

source image : http://photodoto.com/tumblr-blogs-for-photographers/
Saya benci taman saat akhir pekan. Saya benci menjadi sepi ketika melihat orang lain berlalu-lalang dengan raut bahagia.  Saya tidak suka melihat tawa mereka yang membuncah, seakan tak pernah melewati setitikpun masalah di hidupnya. Saya tidak menyukai semuanya. Hiruk-pikuk, aroma permen kapas, gelembung balon yang berterbangan, serta suara gesekan pantat anak-anak dengan perosotan tua yang terdengar ngilu di telinga saya.

Ada yang riuh dan gemuruh, bertalu-talu dalam pikiran saya. Mereka gaduh, berkali-kali mengatakan, “Kamu hanya iri dengan apa yang mereka miliki”. Namun saya hanya diam, sambil sesekali mengiyakan dan mengangguk samar.

Kamu hanya iri dengan apa yang mereka miliki.

Menyedihkan. Saya sungguh terlihat menyedihkan. Memendam rasa iri pada orang yang bahkan tidak saya kenal. Diam-diam saya menertawakan diri sendiri. Tawa saya kencang, menggema di setiap sudut kamar. Namun hati saya seperti teriris kecil-kecil. Darahnya mengucur deras. Sakit.
Saya memang iri. Kepada mereka yang masih bisa tertawa diselingi usapan lembut sang ayah. Kepada mereka yang merajuk meminta dibelikan mainan pada sang ibu. Atau kepada mereka yang hampir menangis karena diledek terus-menerus oleh sang kakak. Saya iri pada mereka, sebab saya tak memiliki itu semua.

Tentu saya tak bisa menyalahkan Tuhan. Segala sesuatu yang sudah direncanakan oleh-Nya adalah yang terbaik, tanpa saya ketahui. Namun sampai sekarang, saya belum merasakan melalui sudut pandang manakah agar saya bisa melihat kebaikannya. Melalui sisi mana agar saya bisa menerima takdir-Nya dengan hati lapang. Saya merenung berhari-hari, hingga sadar, yang saya butuhkan hanya melangkah lebih jauh. Saya hanya perlu mencari rupa bahagia lain untuk mengisi hati yang sudah mengeras. Saya hanya perlu membuka mata lebih lebar untuk melihat hal-hal kecil yang selama ini saya abaikan. Saya harus merelakan, sebab Tuhan memberikan apa yang saya butuhkan, bukan apa yang saya inginkan.

Mungkin kebahagiaan yang saya kira paling benar bukanlah bahagia yang ingin Tuhan berikan pada saya. Ada kejadian mengejutkan di luar sana yang siap disambut. Ada tangan yang siap terulur ketika saya terjatuh. Ada rentangan peluk, meminta saya untuk merengkuh tanpa ragu. 

Terimakasih, untuk diri saya sendiri karena telah bertahan. Terimaksih untuk berjuang dan menyadari semua kesalahan di masa lalu. Terimakasih, karena tidak menyia-nyiakan hidup untuk sekedar iri kepada orang lain.

Senin, 08 Februari 2016

Surat Sang Patah Hati


Saya adalah pelupa kesedihan ketika jalan bersisian denganmu. Rasanya bukan hanya berbunga-bunga, namun seakan semesta menyetujui apa-apa yang akan kita lakukan seharian. Berkubang dalam canda-tawa yang begitu menggemaskan, begitu manusia-manusia kasmaran menyebutnya. Ah, tapi saya tidak sedang kasmaran padamu. Begitupun jatuh cinta. Saya sudah melakukannya setiap hari. Saya hampir bosan, namun entah mengapa manik matamu menyiratkan rupa keyakinan. Maka dari itu, tak ada lagi kata ragu yang menyelinap dalam detik-detik yang kita lalui.

Saya kira kita akan terus bersama-sama. Tak muluk-muluk, saya hanya ingin terus melihat senyum yang rekah pada bibirmu. Namun sepertinya Tuhan mempunyai plot lain. Dalam dunia kepenulisan, biasa disebut plot twist, kalau saya tidak salah mengingatnya. Saya tidak bisa menentukan tanda baca apa saja yang akan digunakan, berapa halaman yang saya butuhkan untuk menulisnya, dan perihal lain yang tidak pernah saya pahami. Bukankah setiap manusia memiliki hak yang tidak bisa dirampas oleh siapapun? Ah, saya lupa Tuhan selalu mempunyai rencana yang tidak pernah bisa diduga-duga. Rencana-Nya tak bisa diganggu gugat, sekalipun saya adalah anak presiden ataupun orang paling berpengaruh di negeri ini. Tuhan menciptakan plot twist, kemudian ditambahkan bumbu-bumbu yang saya tebak adalah cuka, garam, dan mungkin brotowali. Saya pikir, itu bukan adonan yang pas, namun lagi-lagi saya tak bisa membantah. Melalui malam, saya dipisahkan dengan kamu tanpa adanya jeda untuk sekedar bernafas ataupun berpikir, “ Sebenarnya dosa sebesar apa yang telah saya perbuat hingga Tuhan menghukum tak tanggung-tanggung seperti ini?”

Hukuman itu membuat saya dan kamu menebalkan jarak. Baru kali ini saya merasa bahwa kita lebih senyap daripada gemerisik di padang ilalang. Kita bukan lagi perindu hari panjang yang dihabiskan bergelung berduaan di bawah selimut tebal. Kita menjadi penyimpan rahasia masing-masing, tanpa mau memberitahu hal besar apa yang tersembunyi di dalamnya. Kita adalah hambar dan kedinginan. Hingga pelan-pelan saya mengetahui, ada tokoh lain yang mampu membuatmu jatuh cinta lagi. Kamu berjalan jauh di depan saya, dengan alasan terlalu banyak perbedaan yang tumbuh membelukar di antara kita. Kamu tengelam dalam suasana baru, lalu meninggalkan saya yang sibuk menyembunyikan pilu di balik pintu.

Saya percaya, wanita yang kini berdampingan denganmu, adalah wanita paling bahagia sebab ia telah  memilikimu sepenuhnya. Wanita yang kini berdiri di belakangmu, juga wanita yang paling bahagia, sebab di depannya ia pernah memiliki pria itu. Pria itu kamu, yang pernah mengisi macam-macam bahagia di kepala saya. Terimakasih untuk 96 hari yang sangat berkesan.


Dari wanita pengeja langkahmu yang kian menjauh.

Selasa, 05 Januari 2016

Pria Kafein


Petang ini hujan kembali membasahi bumi. Rintiknya jatuh satu per satu, meninggalkan jejak genangan air di jalanan. Aku mendesah samar. Kutatap kembali secangkir kopi yang masih utuh, belum tersentuh sedikitpun. Kutangkupkan kedua telapak tanganku menyelimuti cangkir, berharap menemukan sedikit kehangatan disana. Dari dulu, aku tak pernah menyukai kopi. Sampai aku bertemu denganmu, pria yang selalu mengagungkan kopi tinggi-tinggi, aku memaksakan diri untuk perlahan menyukai kopi.

Kau tahu. Kita semua tahu,  kopi memiliki rasa yang getir. Pahit. Membuat urat lidahmu tersentak dan enggan mengecapnya kembali.

Namun kau sangat menyukai kopi. Kau selalu menyesapnya perlahan, menghirup aromanya dalam-dalam, seolah kopi adalah parfum terbaik yang pernah diciptakan. Seolah kopi adalah penemuan yang paling berpengaruh dalam hidupnya.

Aku menyukai senyummu yang pelan-pelan mengembang setelah menikmati kopi. Aku menyukai kedua belah bibirmu yang selalu menjelaskan mahadasyat lezatnya kopi dengan semangat. Aku menyukai kedua matamu yang selalu menyiratkan jenaka hingga melengkung sempurna. Aku menyukaimu, seperti kau yang menyukai kopi.

Aku tak paham mengapa begitu banyak orang menyukai kopi. Aku tak mengerti sama sekali, sebab aku tak tahu bagaimana cara menikmati kopi. Aku benci dengan pahit yang terkandung dalam kopi. Aku benci kafein yang seringkali membuat perutku melilit ketika mencicipinya.

Begitu pula orang lain. Mereka tak paham dan tak mengerti, mengapa aku bisa mencintaimu sedalam ini. Sejatuh ini. Segila ini. Bayangan wajahmu telah merasuk ganas dalam sel-sel otakku, berjejalan dan aku tak bisa lagi berhenti memikirkanmu. Kamu, satu-satunya pribadi yang benar-benar membuatku memuja sejauh ini. Aku jatuh dalam candu kafeinmu. Kamu, dan sikap tenangmu. Kamu, dan kerutan kening yang sesekali muncul ketika membaca buku. Kamu, yang selalu tertawa lepas hingga kedua pundakmu bergetar. Kamu, dengan otak cerdasmu karena selalu menjadikan ensiklopedia bagian dari ‘sarapanmu.’ Kamu, dan kafeinmu.


Dari wanita yang (enggan) menyukai kopi. Penghuni detak jantung yang masih lama.

Senin, 04 Januari 2016

De Javu

source image : www.flickr.com
Suara sirine kereta api berderu memenuhi setiap sudut stasiun. Sepasang manusia terlihat tengah berhadapan, saling tatap cukup lama. Kemudian, sang pria dengan terpaksa melepaskan genggaman tangannya dari sang wanita. Dapat kulihat dari gerak-gerik mulutnya, sang wanita berucap ‘Pergilah’ lalu diangguki sang pria. Sang pria melangkah menuju kereta dengan gontai. Hingga kereta berjalan, sang wanita tak berpindah sedikitpun. Ia menatap kosong kepergian kereta, yang kini hanya menyisakan rel mengkilat. Setelah berdiri cukup lama, sang wanita menangis tanpa suara. Air matanya meleleh dan menggenangi kedua belah pipinya. Ia mengusap pipi basahnya dengan selembar tisu. Ia tersenyum, tampak berusaha merelakan kepergian prianya. Jauh, terbentang berkilo-kilo jarak.
Aku tertegun. Rasanya seperti de javu. Lima tahun yang lalu. Mati-matian aku menahan tangis di depan priaku. Menyunggingkan senyum terbaik sebelum ia berjalan jauh. Ia mendekapku erat, dan berbisik pelan di telingaku ‘Aku akan cepat kembali.’ Waktu itu aku hanya bisa mengangguk pelan serta mengeratkan pelukan. Kemudian ia melangkah jauh dariku. Jauh, dan tak akan pernah kembali lagi. Hingga sekarang. Aku memejamkan mataku, berharap puing-puing kenangan itu meringsek pergi dari ingatanku.
Ketika aku membuka mata, yang kudapati memang priaku. Namun bukan priaku yang dulu. Ia melambaikan tangan kepadaku disertai cengiran lebarnya. Aku hanya tersenyum tipis. Aku belum bisa menemukan kebahagiaanku secara utuh, mengingat orang yang benar-benar kucintai telah meninggalkanku selamanya. Aku menatap kembali wanita tadi. Ia tengah meneguk sebotol air mineral. Dalam hati, aku merapalkan doa, semoga takdir menuntunnya pada pengakhiran yang bahagia.
  

Sabtu, 02 Januari 2016

PENELITIAN TINDAKAN KELAS


            Anda tentu sering mendengar kata penelitian, bukan? Dalam dunia pendidikan, seorang guru perlu melakukan sebuah penelitian pula di dalam kelasnya tempat ia mengajar, yang sering disebut dengan istilah penelitian tindakan kelas. Apakah yang dimaksud dengan penelitian tindakan kelas? Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah sebuah penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa meningkat.
Source image : www.anneahira.com
Penelitian Tindakan Kelas sendiri memiliki beberapa karakteristik yang membedakan dengan penelitian biasa, yaitu: 1) An inquiry of practice from within (penelitian berawal dari kerisauan guru akan kinerjanya); 2) Self-reflective incuiry (metode utama adalah refleksi diri, bersifat agak longgar, tetapi tetap mengikuti kaidah-kaidah penelitiannya); 3) Fokus penelitian berupa kegiatan pembelajaran; 4) Tujuannya yaitu memperbaiki pembelajaran, dengan adanya tindakan yang berulang-ulang sampai didapatkan hasil yang terbaik (Wardhani, 2007).
Langkah-langkah operasional yang dapat dilakukan PTK ialah mengidentifikasi fokus penelitian, menganalisis fokus penelitian dan menentukan faktor-faktor yang diduga sebagai penyebab utama, merumuskan gagasan-gagasan pemecahan fokus penelitian bagi faktor penyebab utama yang gawat dengan mengumpulkan data dan menafsirkannya untuk mempertajam gagasan tersebut serta mengkaji kelayakan solusi atau pilihan tindakan pemecahan masalah.
Dalam penerapannya, PTK tentu memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan PTK  yaitu (1) menumbuhkan rasa kerja sama antara guru dengan pihak lain yang ikut membantu dalam pelaksanaan PTK; (2) tumbuhnya kreativitias dan pemikiran kritis lewat interaksi terbuka yang bersifat reflektif/evaluatif dalam PTK; (3) dalam kerja sama ada saling merangsang untuk berubah. Sedangkan kelemahan dari PTK yakni (1) Kekurangan pengetahuan dan keterampilan dalam teknik dasar penelitian pada pihak peneliti. (2) Penelitian tindakan memerlukan komitmen peneliti untuk terlibat dalam prosesnya, faktor waktu ini dapat menjadi kendala besar. (3) Kesulitan mengajak orang untuk mengadakan perubahan.
Penerapan PTK ini berdasarkan teori tindakan, karena fokus terhadap hubungan sosial manusia satu dengan yang lain. Dalam Penelitian Tindakan Kelas, supaya pelaksanaan PTK dapat berjalan dengan lancar,  kolaborasi antar guru guna berdiskusi untuk menemukan solusi pemecahan masalah sangat dibutuhkan. Jadi, PTK dapat dilakukan dengan adanya keterlibatan pihak lain, seperti: teman sejawat, para pakar bidang studi, atau kepala sekolah.
PTK dapat dilakukan oleh guru untuk mengatasi berbagai masalah di kelas sehingga mutu proses dan hasil belajar dapat ditingkatkan. Keberhasilan PTK tergantung pada kemauan dan penguasaan kemampuan guru menerapkan PTK. Guru harus memiliki inisatif dalam merespon situasi dan mengatasi masalah di kelas.
Sumber:
Jones, Pip. (2009). Pengantar Teori-teori Sosial: Dari Teori Fungsionalisme hingga Post-modernisme. Terjemahan A. Fedyani Saifuddin. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Wardhani, Igak, dkk. (2007). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Penerbit Universitas Terbuka