Homeschooling Meminimalisir Sosialisasi Anak
dengan Lingkungan
Ira
Cucu Cidar
Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan
Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang
iracidar7@yahoo.com
Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan
Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang
iracidar7@yahoo.com
Abstrak
Artikel
ini menelaah tentang terbatasnya sosialisasi anak dengan lingkungan yang
disebabkan oleh homeschooling. Hal
ini menimbulkan perasaan anak yang kurang peka bahkan tidak peduli pada
lingkungan. Mereka cenderung individualis serta terkadang merasa paling hebat karena tidak merasakan
kompetisi meraih peringkat terbaik, sehingga tidak bisa mengukur kekurangan
diri sendiri dibandingkan siswa yang lain. Intensitas dalam bersosialisasi
dengan teman sebaya-pun sangat jarang. Mereka lebih sering bersosialisasi
dengan orang yang lebih tua (lintas umur). Padahal hubungan dengan teman sebaya
adalah suatu tahap dan masa yang sangat penting, karena masa tersebut
merupakan masa pengembangan diri. Pertemanan
sebaya anak-anak homeschooling biasanya diperoleh dengan keterlibatan anak pada
kegiatan spiritual keagamaan (pengajian, kelompok meditasi, dsb) , melalui
kursus-kursus yang diikuti anak, mengikuti klub hobi/minat, mengikuti kegiatan
dalam komunitas homeschooling, dan
kegiatan-kegiatan lain yang menunjang kemampuan sosialisasi anak. Solusi lain yang dapat ditempuh yakni dengan senantiasa
menjaga intensitas untuk mendampingi anak dalam kegiatan pembelajaran homeschooling. Melalui kegiatan
pendampingan ini, orangtua bisa selalu mengawasi serta memberi pengarahan pada anak
sehingga menjadi terlatih dalam hal bersosialisasi nantinya. Orangtua juga bisa
mengawasi lingkungan pergaulan anak supaya tidak terjerumus pada hal yang
negatif.
Kata kunci : individualis; lingkungan; sosialisasi;
pendampingan orang tua
Pendahuluan
Jenis pendidikan
di Indonesia terbagi tiga jalur yaitu jalur formal, nonformal, dan
informal. Pendidikan
Formal merupakan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah-sekolah pada umumnya.
Jalur pendidikan ini mempunyai jenjang pendidikan yang jelas, mulai dari
pendidikan dasar, pendidikan menengah, sampai pendidikan tinggi. Pendidikan nonformal cadalah pendidikan yang berstruktur, berprogram, dan berlangsung di
luar sekolahan. Contohnya Taman Pendidikan Al Quran, Sekolah
Minggu, berbagai kursus, bimbingan belajar, dan sebagainya. Pendidikan Informal adalah pendidikan
yang tidak terprogram, tidak berstruktur, berlangsung kapanpun dan dimanapun. Pendidikan
informal dapat juga disebut pendidikan yang ada di masyarakat, atau pendidikan
yang dialami oleh seseorang oleh lingkungannya (Munib, 2012).
Dasar
penyelanggaraan homeschooling diantaranya adalah UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional, terutama pasal 27 yang berbunyi: 1) Kegiatan pendidikan
informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar
secara mandiri. 2) hasil pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 diakui
sama dengan pendidikan formal dan non-formal setelah peserta didik lulus ujian
sesuai dengan standar nasional pendidikan.
Istilah Homeschooling berasal dari Bahasa Inggris yang berarti sekolah
rumah. Homeschooling juga dikenal
dengan nama home-based education, home education, home-schooling, unschooling,
deschooling, a form of alternative education, sekolah mandiri, atau sekolah
rumah. Maksudnya yaitu kegiatan yang biasanya dilakukan di sekolah dilakukan di
rumah. Pengertian umum homeschooling
adalah model pendidikan dimana sebuah keluarga memilih untuk bertanggungjawab
sendiri atas pendidikan anaknya dengan menggunakan rumah sebagai basis
pendidikannya. Memilih
untuk bertanggungjawab berarti orangtua terlibat langsung menentukan proses
penyelenggaraan pendidikan, penentuan arah dan tujuan pendidikan, nilai-nilai
yang hendak dikembangkan, kecerdasan, dan keterampilan, kurikulum dan materi,
serta metode dan praktek belajar (www.scribd.com., 2009).
Secara
singkat Homeschooling merupakan
proses pendidikan seperti sekolah pada umumnya namun praktiknya berbeda.
Biasanya di sekolah pada umumnya terdiri dari banyak siswa, guru, dan bertempat
di suatu bangunan tetap tertentu milik pemerintah maupun swasta, sedangkan homeschooling guru mendatangi rumah
peserta didik atau tempat tertentu kemudian terjadi interaksi kegiatan belajar
mengajar hanya antara guru tersebut dan peserta didiknya. Dalam homeschooling tidak ada interaksi sesama
peserta didik atau teman bermain di sekolah karena proses pembelajaran homeschooling seperti private yaitu
satu peserta didik bertemu dengan beberapa guru saja secara bergantian setiap
waktunya yang disesuaikan mata pelajaran yang akan dibahas (hanisulistiani.wordpress.com., 2012)
Manusia memiliki karakter dan
kebutuhan yang berbeda-beda. Tidak semua manusia mau dan mampu menerima
pendidikan di lembaga sekolah formal dengan alasan tertentu. Maka dari itu,
manusia boleh untuk memilih alternatif pendidikan lain untuk tetap memenuhi
haknya sebagai warga negara yakni belajar. Hal ini sesuai dengan Undang-undang
Dasar Negara Republik Indonesia pasal 31 ayat 1 yang berbunyi “Setiap warga
negara berhak mendapatkan pendidikan.”
Secara umum, alasan orang tua
memilih homeschooling sebagai
alternatif pendidikan anak adalah tidak puas dengan model sekolah umum dan
ingin memberikan pendidikan yang berkualitas pada anak. Atau mungkin anak
memiliki kebutuhan khusus, seperti anak autis, anak-fokus, dan lain-lain. Namun
tak sedikit dari orang tua mengkhawatirkan cara bersosialisasi anak nantinya.
Orang tua takut jika nanti anaknya akan menjadi pribadi yang tida bisa bergaul
dan pendiam, karena anak tidak bisa bergaul dengan teman sebayanya.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
(KBBI) sosialisasi adalah suatu proses belajar seorang anggota masyarakat untuk
mengenal dan menghayati kebudayaan masyarakat di lingkungannya. Jadi, agen
penting yang terlibat dalam mempelajari kebudayaan masyarakat di sekitarnya
adalah keluarga. Begitu halnya dengan homeschooling. Peran keluarga sangat
dibutuhkan untuk sosialisasi bagi anak homeschooling. Homeschooling bukan
berarti anak akan terus menerus berada di dalam rumah. Justru anak bisa belajar
secara langsung dan bebas di lingkungan sekitar, sehingga bisa mempersiapkan
diri jika nanti akan terjun langsung ke masyarakat.
Homeschooling di Indonesia
Homeschooling di Indonesia sudah dikenal oleh
masyarakat luas. Namun, tak jarang homeschooling dipandang ‘sebelah mata’ oleh
masyarakat. Selama ini model pendidikan yang diakui oleh masyarakat adalah
lembaga pendidikan formal atau sekolah formal baik itu negeri ataupun swasta.
Orangtua lebih suka menyekolahkan anknya di sekolah formal dibandingkan
homeschooling. Padahal, tidak semua anak merasa nyaman dan bisa beradaptasi di
lingkungan sekolah formal. Selain itu, ketidakpuasan terhadap kualitas
pendidikan di sekolah formal juga menjadi pemicu bagi keluarga-keluarga
Indonesia untuk menyelenggarakan homeschooling
yang dinilai lebih dapat mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang direncanakan
oleh keluarga.
Homeschooling di Indonesia
sendiri mulai marak pada tahun 2005. Kak Seto, tokoh pendidikan anak Indonesia
dalam bukunya yang berjudul “Homeschooling keluarga Kak Seto” (2007) menyebutkan
bahwa Bapak Pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara, Buya Hamka dan KH. Agus
Salim adalah para tokoh nasional yang tumbuh dan berkembang lewat homeschooling. Banyak orang tua yang
meragukan atau mempertanyakan legalitas proses pendidikan alternatif selain
sekolah umum ini. Meskipun begitu, jumlah praktisi homeschooling ternyata
semakin bertambah setiap tahunnya. Hal ini bisa dilihat dari menjamurnya
berbagai lembaga, komunitas dan sekolah-sekolah dengan embel-embel
homeschooling di kota-kota besar di Indonesia (www.informasitips.com.,
2012)
Meski disebut homeschooling, tidak berarti anak akan terus menerus belajar di rumah.
Anak-anak dapat belajar di mana saja dan kapan saja asal situasi dan kondisinya
benar-benar nyaman dan menyenangkan seperti at home. Dalam sistem homeschooling, jam pelajaran bersifat
fleksibel mulai dari bangun tidur sampai berangkat tidur kembali. Di sekolah
ini tidak ada kelas seperti halnya di sekolah formal dan fungsi guru hanya
membimbing dan mengarahkan minat anak-anak dalam mata pelajaran yang
disukainya, tetapi secara umum sekolah ini menjadikan anak didik sebagai subjek
kurikulum, bukan sebagai objek kurikulum. Dengan kata lain, kurikulum itu untuk
anak, bukan anak sebagai kurikulum. Misalnya guru mengajak anak-anak tidak
terlalu banyak belajar dalam ruangan yang serba kaku dan tertutup, namun
sesekali mereka juga berkunjung ke berbagai tempat yang bisa menjadi obyek
pelajaran seperti sawah, taman burung, kebun binatang, pabrik, media masa cetak
dan elektronik yang tujuannya untuk belajar dan menyaksikan langsung obyek mata
pelajarannya.
Lingkungan gerak anak terbatas
Berdasarkan
rentang usia di dalam sebuah kelompok masyarakat, ada dua model sosialisasi
yang biasanya dikenal, yaitu sosialisasi horizontal (seumur) dan sosialisasi
vertikal (lintas umur).Sistem sekolah sangat menekankan pada sosialisasi
horizontal atau sosialisasi teman sebaya. Anak-anak dikumpulkan dan
dikelompokkan berdasarkan usia yang kurang lebih sama. Proses sosialisasi ini
berlangsung selama anak bersekolah, yakni dalam jangka waktu sekitar 12-15
tahun. Setelah anak masuk kerja, barulah mereka bersosialisasi dengan rekan
yang memiliki rentang umur yang cukup jauh. Sementara itu sosialisasi anak-anak
homeschooling pada umumnya yaitu
sosialisasi vertikal (lintas umur). Jadi, sosialisasi yang tercipta tak hanya
mencakup teman sebaya, namun terdiri dari beragam umur seperti ayah, ibu,
kakek, nenek dan lain-lain.
Masyarakat
pada umumnya mengira bahwa anak homeschooling
cenderung tertutup dan kurang pandai dalam hal bersosialisasi. Hal tersebut
memang tak dapat dipungkiri. Kemampuan akademis anak homeschooling jauh lebih bisa berkembang dibandingkan anak yang
sekolah di lembaga pendidikan fomal. Namun, mereka memiliki kemampuan
bersosialisasi yang kurang. Dengan adanya interaksi dengan orang yang lebih tua
saja, membuat anak menjadi sulit dalam bersosialisasi dengan orang yang seusianya.
Anak hanya mampu berinteraksi baik dengan orang yang lebih tua darinya namun
tidak mampu berinteraksi dengan baik dengan teman-teman sebayanya. Anak homeschooling relatif tidak terekspos
dengan pergaulan yang heterogen secara sosial.
Anak menjadi tidak mampu bekerja
dalam tim karena kecenderungannya yang bekerja secara individu. Anak telah
dididik secara mandiri dan secara individu membuat anak menjadi susah dalam
bekerja sama. Anak hanya memiliki pergaulan dengan orang tua atau pembimbingnya
saja. Homeschooling membuat anak tidak memiliki wawasan yang luas dalam
artian si anak menjadi kurang pergaulan. Karena anak tertutup dengan pergaulan
yang bebas diluar sana.
Hal ini tentu menjadi problematika
yang cukup rumit. Banyak orangtua yang khawatir jika menyekolahkan anaknya di homeschooling, maka anak tersebut akan
mengalami kesulitan bersosialisasi. Sekolah selama
ini dipandang sebagai sarana bersosialisasi bagi anak. Di sekolah, anak akan
mau tidak mau berinterkasi dengan teman-teman sekolahnya. Nah, kalau anak
bersekolah di rumah, lantas anak akan berinteraksi dengan siapa?
Apa yang harus dilakukan?
Permasalahan sosialisasi anak homeschooling memang sudah begitu tenar
di kalangan masyarakat. Pada hakikatnya homeschooling adalah sebuah sekolah
alternatif yang menempatkan anak-anak sebagai subjek dengan menggunakan
pendekatan pendidikan secara “at home”. Dengan pendekatan pendidikan secara “at
home” inilah, anak-anak akan merasa nyaman dalam belajar karena mereka dapat
belajar apa saja sesuai keinginannya. Mereka juga dapat belajar kapan saja, di
mana saja, dan kepada siapa saja. Jadi, meskipun disebut homeschooling, tidak berarti anak akan terus-menerus belajar di
rumah. Anak harus diikutsertakan dalam kegiatan masyarakat seperti pengajian,
kegiatan keagamaan, dan lain-lain. Dengan begitu anak bisa bergaul dengan teman
sebayanya sehingga pola perkembangan dirinya dapat tumbuh dengan baik. Sekolah rumah bukan berarti anak-anak
dikungkung belajar di dalam rumah. Mereka bisa memelajari banyak hal di mana
saja dan dari siapa saja.
Solusi yang dapat ditempuh yakni
dengan mengintensifkan pendampingan orangtua pada anak. Jika kita mau
memusatkan perhatian pada anak-anak, selama mereka terjaga dan beraktivitas,
kita bisa dekat dengan anak-anak dan itu adalah cara belajar yang efektif. Namun,
bukan berarti sosialisasi vertikal (lintas umur) berdampak buruk pada anak,
justru dengan sosialisasi vertikal anak dipersiapkan untuk terjun ke dunia
masyarakat nantinya.
Adapun,
anak-anak homeschooling bersosialisasi
secara vertikal, bertanggung jawab, mau melayani, serta hormat kepada orang
yang lebih tua. Para peneliti ini akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa anak-anak
homeschooling tidak memiliki masalah
dalam sosialisasi. Mereka justru memiliki yang lebih fleksibel untuk
field trip, camping, olahraga, mau pun pergi ke tempat-tempat bersejarah untuk
memelajari banyak hal. Mari kita bandingkan dengan sekolah formal. Apakah
sekolah satu-satunya tempat anak untuk mengembangkan kemampuan bersosialisasi?
Pengaruh lingkungan teman-teman sebaya yang negatif dapat berpengaruh buruk
pada kepribadian anak nantinya. Pengaruh yang paling terlihat adalah bahasa dan
sikap. Saat anak-anak bergaul dengan teman-teman yang biasa berkata baik,
bahasa mereka biasanya terbentuk menjadi baik. Namun bersiaplah saat anak-anak
bergaul dengan teman yang biasa berkata kotor dan kasar, mereka pun berpotensi
untuk terbiasa berkata-kata yang sama. (www.kompas.com., 2011)
Karena itu, memilihkan
lingkungan sosial yang sehat adalah tugas berat bagi orang tua masa kini.
Karakter dan bahasa negatif tersebar terlalu merata. Televisi, keluarga besar,
tetangga, kampung, dan bahkan sekolah pun tak dijamin bebas dari bahasa-bahasa
negatif. Yang penting, kita perlu terus mengetahui apa yang terjadi dan terus
mendampingi anak-anak selama masa belajar mereka. Jangan sampai anak-anak
terjerumus pada pergaulan yang salah.
Penutup
Berdasarkan problematika
mengenai sosialisasi anak homeschooling,
terdapat beberapa solusi untuk menyelesaikan permasalahan tentang sosialisasi
anak homeschooling, yakni; Pertama, senantiasa mendampingi anak. Disini,
orang tua juga berperan sebagai guru, sehingga orang tua harus bisa mengajarkan
sosialisasi pada anak. Kedua, ikut sertakan anak dalam berbagai kegiatan
seperti les balet, mengaji, kursus, dan sebagainya supaya kemampuan
bersosialisasi horizontal anak semakin terasah dengan baik.
Daftar Pustaka
Afiqi, M.A. 2009. Makalah Homeschooling
atau Sekolah Rumah. Diunduh di https://www.scribd.com/doc/24319706/Makalah-Home-Schooling-atau-Sekolah-Rumah tanggal 10 Oktober 2014
Kompas.com. 2011.
Benarkah Anak HS Tak Bisa Bersosialisasi?
. Diunduh di http://edukasi.kompas.com/read/2011/08/12/09574821/Benarkah.Anak.HS.Tak.Bisa.Bersosialisasi tanggal 19
Oktober 2014
Saraswati, Widyasari.
2012. Homeschooling di Indonesia. Diunduh di http://informasitips.com/homeschooling-di-indonesia tanggal 9 Januari 2015
Sulistiani, Hani. 2012.
Menelaah Keberadaan Pendidikan Karakter di Homeschooling. Diunduh di https://hanisulistiani.wordpress.com/2012/05/20/menelaah-keberadaan-pendidikan-karakter-di-homeschooling/ tanggal 8 Januari 2015
Alwi, Hasan. 2007. Kamus Besar Bahasa
Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka
Mulyadi, Seto. 2007. Home Schooling Keluarga Kak-Seto: Mudah,
Murah, Meriah, dan Direstui Pemerintah. Bandung: Kaifa
Munib,
Achmad. 2012. Pengantar Ilmu Pendidikan.
Semarang: UPT UNNES Press
Holt, John Cadlwell. 1964. How Children Fail. New York: Addison-Wesley
Publishing Company
Republik
Indonesia. 2003. Undang-Undang No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional. Jakarta

Baguss..
BalasHapusnice artikel
BalasHapus