Jumat, 11 Desember 2015

Jenis-jenis Komunikasi di Dunia Maya



Di zaman serba canggih ini, dunia maya tentu bukanlah menjadi hal yang asing lagi bagi kita. Apa yang ada dalam benak Anda ketika mendengar frasa ‘dunia maya’? Apakah dunia yang secara kasat mata tidak nampak, namun dapat menyatukan berbagai orang melalui interaksi tidak langsung? Sebuah dunia teknologi komunikasi tanpa batas, yang membuat orang-orang lebih menyukainya, dibanding dunia nyata.
Dalam novel Neuromancer, William Gibson mendefinisikan dunia maya sebagai dunia lain yang terdiri dari banyak informasi dari perusahaan, militer, pemerintah, serta individual. Seseorang mengakses matriks informasi ini dengan alat elektronik yang dilengkapi dengan elektrode. Dalam pemakaian umum saat ini, dunia maya adalah istilah komprehensif untuk world wide web, internet, milis elektronik, kelompok-kelompok dan forum diskusi, ruang ngobrol (chatting), permainan interaktif multi-player, dan bahkan e-mail (Gibson, 1984).
Komunikasi dunia maya atau yang biasa disebut dengan komunikasi virtual adalah komunikasi (proses penyampaian dan penerimaan pesan) menggunakan cyberspace / ruang maya yang bersifat interaktif. Dalam hal ini, komunikasi virtual dapat berlangsung karena adanya media komunikasi, yakni internet. Melalui komunikasi virtual, hambatan-hambatan yang ada seperti jarak, waktu, biaya, serta kesulitan lainnya dapat teratasi. Hal ini dikarenakan internet sebagai media komunikasi virtual tidak terbatas ruangnya sehingga masyarakat luas dapat menyampaikan dan menerima informasi dengan bebas.
Internet menyediakan berbagai fasilitas yang dapat menunjang seseorang untuk berkomunikasi dengan orang lain. Beberapa fasilitas yang dapat dimanfaatkan antara lain:
1.     Chatting
Chatting merupakan kata benda dari kata kerja chat (Bahasa Inggris) artinya ngobrol. Chatting dalam dunia internet artinya program yang tersedia yang digunakan untuk mengobrol atau berinteraksi via internet. Melalui fasilitas ini kita bisa mengobrol dengan siapapun dan dimanapun di seluruh dunia. Ada beberapa jenis komunikasi yang bisa dilakukan dengan program chatting ini, yaitu komunikasi lewat tulisan, suara, gambar, mengirim file dan pesan singkat. Selain itu, chatting bisa dilakukan berdua saja ataupun beramai-ramai. Untuk chatting dengan banyak orang, kita bisa memanfaatkan fasilitas chat room (Rusman, 2013).
Software yang menyediakan fasilitas chatting seperti Mirc dari Microsoft, Viizc, dan lainnya. Selain itu adapula aplikasi line, BBM, whatsapp, WeChat, KakaoTalk, dan-lain lain yang bisa diakses melalui smartphone.
2.     E-mail
E-mail merupakan kepanjangan dari electronic mail, dalam Bahasa Indonesia artinya surat elektronik. Surat elektronik adalah surat yang dibuat, dikirim dan diterima tidak dalam bentuk fisik berupa kertas akan tetapi dalam bentuk data elektronik yang dibuat, dikirim dan/atau diterima dalam bentuk data yang diolah dan dikirim menggunakan program aplikasi e-mail dengan memanfaatkan peralatan elektronik komputer dan jaringan internet. Ada beberapa aplikasi e-mail di antaranya Yahoo! Mail, Gmail, Hotmail, AOL, Sina, 126, 163, Daum dan sebagainya (http://dhimaz-ardiand.blogspot.co.id, 2011).
Jenis komunikasi dalam e-mail berbentuk asynchronous communications (komunikasi asinkronis), artinya pengirim pesan dan penerima pesan tidak berada pada tempat dan waktu yang bersamaan. Dengan demikian, proses komunikasinya mengalami jeda dalam penerimaan serta dalam feedback-nya. Level interaktif dalam proses komunikasi melalui e-mail termasuk rendah (Effendi, 2010).
3.     Mailing List (milis)
Mailing List digunakan untuk melakukan diskusi online dalam sebuah forum tertentu untuk membahas permasalahan tertentu bagi nitizen yang memiliki masalah dan topik yang sama melalui e-mail. Misalnya topik tentang pekerjaan, bisnis, pendidikan, hobi atau kelompok organisasi kemahasiswaan, HMJ KURTEK, BEM, HMI dan sebagainya. Salah satu penyedia mailing list (server) yang paling terkenal adalah Yahoo! (Akhmad, 2008).
Untuk bisa melakukan diskusi di milis atau mailing list, kita harus terdaftar terlebih dahulu di penyedia mailing list, misalnya di Yahoo! Groups. Kalau sudah terdaftar artinya kita sudah memiliki akses untuk masuk ke dalam kelompok-kelompok diskusi di mailing list yang sudah ada. Di sini kita bisa mengirim dan menerima pesan e-mail sesuai dengan tema diskusi tertentu.
Untuk membuat grup diskusi baru kita harus mendaftar pembentukan grup, lalu menentukan kategori tema diskusi terlebih dahulu. Apabila grup sudah terbentuk, kita bisa mengundang orang-orang yang memiliki keminatan yang sama atau yang tertarik dengan tema diskusi yang kita bentuk untuk menjadi teman atau anggota milis. Apabila sudah banyak pendaftar atau anggota kelompok yang bergabung, disini kita harus mengelola keberadaan para milis, diantaanya pengelolaan status anggota. Contoh ada yang berstatus sebagau member, moderator, atau sebagai owner.
4.     Facebook, Twitter, Ask.fm, Instagram, dan media sosial lainnya
Hampir semua remaja pada saat ini memiliki account facebook, twitter, ask.fm, instagram, dan sederet jejaring sosial lainnya. Media sosial di atas seringkali digunakan oleh para remaja untuk berkomunikasi, pencarian informasi, atau bahkan mencurahkan ekspresi diri.
Sebenarnya, keempat media sosial ini memiliki fungsi serta identitasnya yang hampir sama. Dalam pengunaannya, facebook merupakan media sosial yang sangat populer. Di dalam aplikasi ini terdapat profil, album foto, status, dan wall (kiriman dari orang lain yang berada pada wall profil orang tersebut). Sedangkan ask.fm adalah sebuah media sosial yang diperuntukkan bertanya dan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh orang lain. Dalam aplikasi ini, terdapat istilah anonymous yang memungkinkan tidak dimunculkannya profil si penanya. Instagram, media sosial yang digunakan untuk berbagi foto yang dilengkapi dengan fitur editing foto, caption, serta hastag yang sedang populer. Berbeda dengan facebook yang dapat menulis post/status dengan karakter bebas (sesuai kebutuhan), twitter memberikan fasilitas bagi penggunanya untuk menuliskan tweet sebanyak 140 karakter, lebih singkat daripada media lainnya. Di twitter, kita juga dapat mengomentari tweet following kita yang selanjutkan ditulis dengan fungsi RT (@username). Kita juga dapat meng-upload foto di twitter yang biasa dikenal dengan istilah twitpic.

SUMBER:

Ardiyanto, Dimas. 2011. JENIS-JENIS KOMUNIKASI DI DUNIA MAYA. Diunduh di http://dhimaz-ardiand.blogspot.co.id/2011/11/macam-macam-interaksi-di-dunia-maya.html tanggal 25 September 2015
Effendi, Mukhtar. 2010. Peranan Internet Sebagai Media Komunikasi. Jurnal Dakwah dan Komunikasi. 4(1): 130-142
Fauzi, Akhmad. 2008. Pengantar Teknologi Informasi. Yogyakarta: Graha Ilmu
Gibson, William. 1984. Neuromancer. Amerika Serikat: Ace Books

Rusman, dkk. 2013. Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi. Depok: PT RajaGrafindo Persada

Kamis, 10 Desember 2015

Homeschooling Meminimalisir Sosialisasi Anak dengan Lingkungan

Homeschooling Meminimalisir Sosialisasi Anak dengan Lingkungan
Ira Cucu Cidar
Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan
Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang
iracidar7@yahoo.com

Abstrak
Artikel ini menelaah tentang terbatasnya sosialisasi anak dengan lingkungan yang disebabkan oleh homeschooling. Hal ini menimbulkan perasaan anak yang kurang peka bahkan tidak peduli pada lingkungan. Mereka cenderung individualis serta terkadang merasa paling hebat karena tidak merasakan kompetisi meraih peringkat terbaik, sehingga tidak bisa mengukur kekurangan diri sendiri dibandingkan siswa yang lain. Intensitas dalam bersosialisasi dengan teman sebaya-pun sangat jarang. Mereka lebih sering bersosialisasi dengan orang yang lebih tua (lintas umur). Padahal hubungan dengan teman sebaya adalah suatu tahap dan masa  yang sangat penting, karena masa tersebut merupakan masa pengembangan diri. Pertemanan sebaya anak-anak homeschooling biasanya diperoleh dengan keterlibatan anak pada kegiatan spiritual keagamaan (pengajian, kelompok meditasi, dsb) , melalui kursus-kursus yang diikuti anak, mengikuti klub hobi/minat, mengikuti kegiatan dalam komunitas homeschooling, dan kegiatan-kegiatan lain yang menunjang kemampuan sosialisasi anak. Solusi lain  yang dapat ditempuh yakni dengan senantiasa menjaga intensitas untuk mendampingi anak dalam kegiatan pembelajaran homeschooling. Melalui kegiatan pendampingan ini, orangtua bisa selalu mengawasi serta memberi pengarahan pada anak sehingga menjadi terlatih dalam hal bersosialisasi nantinya. Orangtua juga bisa mengawasi lingkungan pergaulan anak supaya tidak terjerumus pada hal yang negatif.

Kata kunci : individualis; lingkungan; sosialisasi; pendampingan orang tua
Pendahuluan
Jenis pendidikan di Indonesia terbagi tiga jalur yaitu jalur formal, nonformal, dan informal.  Pendidikan Formal merupakan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah-sekolah pada umumnya. Jalur pendidikan ini mempunyai jenjang pendidikan yang jelas, mulai dari pendidikan dasar, pendidikan menengah, sampai pendidikan tinggi. Pendidikan nonformal cadalah pendidikan yang berstruktur, berprogram, dan berlangsung di luar sekolahan. Contohnya Taman Pendidikan Al Quran, Sekolah Minggu, berbagai kursus, bimbingan belajar, dan sebagainya. Pendidikan Informal adalah pendidikan yang tidak terprogram, tidak berstruktur, berlangsung kapanpun dan dimanapun. Pendidikan informal dapat juga disebut pendidikan yang ada di masyarakat, atau pendidikan yang dialami oleh seseorang oleh lingkungannya (Munib, 2012).
Dasar penyelanggaraan homeschooling diantaranya adalah UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, terutama pasal 27 yang berbunyi: 1) Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. 2) hasil pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 diakui sama dengan pendidikan formal dan non-formal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan.
Istilah Homeschooling berasal dari Bahasa Inggris yang berarti sekolah rumah. Homeschooling juga dikenal dengan nama home-based education, home education, home-schooling, unschooling, deschooling, a form of alternative education, sekolah mandiri, atau sekolah rumah. Maksudnya yaitu kegiatan yang biasanya dilakukan di sekolah dilakukan di rumah. Pengertian umum homeschooling adalah model pendidikan dimana sebuah keluarga memilih untuk bertanggungjawab sendiri atas pendidikan anaknya dengan menggunakan rumah sebagai basis pendidikannya. Memilih untuk bertanggungjawab berarti orangtua terlibat langsung menentukan proses penyelenggaraan pendidikan, penentuan arah dan tujuan pendidikan, nilai-nilai yang hendak dikembangkan, kecerdasan, dan keterampilan, kurikulum dan materi, serta metode dan praktek belajar (www.scribd.com., 2009).
Secara singkat Homeschooling merupakan proses pendidikan seperti sekolah pada umumnya namun praktiknya berbeda. Biasanya di sekolah pada umumnya terdiri dari banyak siswa, guru, dan bertempat di suatu bangunan tetap tertentu milik pemerintah maupun swasta, sedangkan homeschooling guru mendatangi rumah peserta didik atau tempat tertentu kemudian terjadi interaksi kegiatan belajar mengajar hanya antara guru tersebut dan peserta didiknya. Dalam homeschooling tidak ada interaksi sesama peserta didik atau teman bermain di sekolah karena proses pembelajaran homeschooling seperti private yaitu satu peserta didik bertemu dengan beberapa guru saja secara bergantian setiap waktunya yang disesuaikan mata pelajaran yang akan dibahas (hanisulistiani.wordpress.com.,  2012)
Manusia memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda-beda. Tidak semua manusia mau dan mampu menerima pendidikan di lembaga sekolah formal dengan alasan tertentu. Maka dari itu, manusia boleh untuk memilih alternatif pendidikan lain untuk tetap memenuhi haknya sebagai warga negara yakni belajar. Hal ini sesuai dengan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia pasal 31 ayat 1 yang berbunyi “Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan.”
Secara umum, alasan orang tua memilih homeschooling sebagai alternatif pendidikan anak adalah tidak puas dengan model sekolah umum dan ingin memberikan pendidikan yang berkualitas pada anak. Atau mungkin anak memiliki kebutuhan khusus, seperti anak autis, anak-fokus, dan lain-lain. Namun tak sedikit dari orang tua mengkhawatirkan cara bersosialisasi anak nantinya. Orang tua takut jika nanti anaknya akan menjadi pribadi yang tida bisa bergaul dan pendiam, karena anak tidak bisa bergaul dengan teman sebayanya.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sosialisasi adalah suatu proses belajar seorang anggota masyarakat untuk mengenal dan menghayati kebudayaan masyarakat di lingkungannya. Jadi, agen penting yang terlibat dalam mempelajari kebudayaan masyarakat di sekitarnya adalah keluarga. Begitu halnya dengan homeschooling. Peran keluarga sangat dibutuhkan untuk sosialisasi bagi anak homeschooling. Homeschooling bukan berarti anak akan terus menerus berada di dalam rumah. Justru anak bisa belajar secara langsung dan bebas di lingkungan sekitar, sehingga bisa mempersiapkan diri jika nanti akan terjun langsung ke masyarakat.

Homeschooling di Indonesia
Homeschooling di Indonesia sudah dikenal oleh masyarakat luas. Namun, tak jarang homeschooling dipandang ‘sebelah mata’ oleh masyarakat. Selama ini model pendidikan yang diakui oleh masyarakat adalah lembaga pendidikan formal atau sekolah formal baik itu negeri ataupun swasta. Orangtua lebih suka menyekolahkan anknya di sekolah formal dibandingkan homeschooling. Padahal, tidak semua anak merasa nyaman dan bisa beradaptasi di lingkungan sekolah formal. Selain itu, ketidakpuasan terhadap kualitas pendidikan di sekolah formal juga menjadi pemicu bagi keluarga-keluarga Indonesia untuk menyelenggarakan homeschooling yang dinilai lebih dapat mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang direncanakan oleh keluarga.
Homeschooling di Indonesia sendiri mulai marak pada tahun 2005. Kak Seto, tokoh pendidikan anak Indonesia dalam bukunya yang berjudul “Homeschooling keluarga Kak Seto” (2007) menyebutkan bahwa Bapak Pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara, Buya Hamka dan KH. Agus Salim adalah para tokoh nasional yang tumbuh dan berkembang lewat homeschooling. Banyak orang tua yang meragukan atau mempertanyakan legalitas proses pendidikan alternatif selain sekolah umum ini. Meskipun begitu, jumlah praktisi homeschooling ternyata semakin bertambah setiap tahunnya. Hal ini bisa dilihat dari menjamurnya berbagai lembaga, komunitas dan sekolah-sekolah dengan embel-embel homeschooling di kota-kota besar di Indonesia (www.informasitips.com., 2012)
Meski disebut homeschooling, tidak berarti anak akan terus menerus belajar di rumah. Anak-anak dapat belajar di mana saja dan kapan saja asal situasi dan kondisinya benar-benar nyaman dan menyenangkan seperti at home. Dalam sistem homeschooling, jam pelajaran bersifat fleksibel mulai dari bangun tidur sampai berangkat tidur kembali. Di sekolah ini tidak ada kelas seperti halnya di sekolah formal dan fungsi guru hanya membimbing dan mengarahkan minat anak-anak dalam mata pelajaran yang disukainya, tetapi secara umum sekolah ini menjadikan anak didik sebagai subjek kurikulum, bukan sebagai objek kurikulum. Dengan kata lain, kurikulum itu untuk anak, bukan anak sebagai kurikulum. Misalnya guru mengajak anak-anak tidak terlalu banyak belajar dalam ruangan yang serba kaku dan tertutup, namun sesekali mereka juga berkunjung ke berbagai tempat yang bisa menjadi obyek pelajaran seperti sawah, taman burung, kebun binatang, pabrik, media masa cetak dan elektronik yang tujuannya untuk belajar dan menyaksikan langsung obyek mata pelajarannya.
Lingkungan gerak anak terbatas
Berdasarkan rentang usia di dalam sebuah kelompok masyarakat, ada dua model sosialisasi yang biasanya dikenal, yaitu sosialisasi horizontal (seumur) dan sosialisasi vertikal (lintas umur).Sistem sekolah sangat menekankan pada sosialisasi horizontal atau sosialisasi teman sebaya. Anak-anak dikumpulkan dan dikelompokkan berdasarkan usia yang kurang lebih sama. Proses sosialisasi ini berlangsung selama anak bersekolah, yakni dalam jangka waktu sekitar 12-15 tahun. Setelah anak masuk kerja, barulah mereka bersosialisasi dengan rekan yang memiliki rentang umur yang cukup jauh. Sementara itu sosialisasi anak-anak homeschooling pada umumnya yaitu sosialisasi vertikal (lintas umur). Jadi, sosialisasi yang tercipta tak hanya mencakup teman sebaya, namun terdiri dari beragam umur seperti ayah, ibu, kakek, nenek dan lain-lain.
Masyarakat pada umumnya mengira bahwa anak homeschooling cenderung tertutup dan kurang pandai dalam hal bersosialisasi. Hal tersebut memang tak dapat dipungkiri. Kemampuan akademis anak homeschooling jauh lebih bisa berkembang dibandingkan anak yang sekolah di lembaga pendidikan fomal. Namun, mereka memiliki kemampuan bersosialisasi yang kurang. Dengan adanya interaksi dengan orang yang lebih tua saja, membuat anak menjadi sulit dalam bersosialisasi dengan orang yang seusianya. Anak hanya mampu berinteraksi baik dengan orang yang lebih tua darinya namun tidak mampu berinteraksi dengan baik dengan teman-teman sebayanya. Anak homeschooling relatif tidak terekspos dengan pergaulan yang heterogen secara sosial.
Anak menjadi tidak mampu bekerja dalam tim karena kecenderungannya yang bekerja secara individu. Anak telah dididik secara mandiri dan secara individu membuat anak menjadi susah dalam bekerja sama. Anak hanya memiliki pergaulan dengan orang tua atau pembimbingnya saja. Homeschooling membuat anak tidak memiliki wawasan yang luas dalam artian si anak menjadi kurang pergaulan. Karena anak tertutup dengan pergaulan yang bebas diluar sana.
Hal ini tentu menjadi problematika yang cukup rumit. Banyak orangtua yang khawatir jika menyekolahkan anaknya di homeschooling, maka anak tersebut akan mengalami kesulitan bersosialisasi.  Sekolah selama ini dipandang sebagai sarana bersosialisasi bagi anak. Di sekolah, anak akan mau tidak mau berinterkasi dengan teman-teman sekolahnya. Nah, kalau anak bersekolah di rumah, lantas anak akan berinteraksi dengan siapa?

Apa yang harus dilakukan?

Permasalahan sosialisasi anak homeschooling memang sudah begitu tenar di kalangan masyarakat. Pada hakikatnya homeschooling adalah sebuah sekolah alternatif yang menempatkan anak-anak sebagai subjek dengan menggunakan pendekatan pendidikan secara “at home”. Dengan pendekatan pendidikan secara “at home” inilah, anak-anak akan merasa nyaman dalam belajar karena mereka dapat belajar apa saja sesuai keinginannya. Mereka juga dapat belajar kapan saja, di mana saja, dan kepada siapa saja. Jadi, meskipun disebut homeschooling, tidak berarti anak akan terus-menerus belajar di rumah. Anak harus diikutsertakan dalam kegiatan masyarakat seperti pengajian, kegiatan keagamaan, dan lain-lain. Dengan begitu anak bisa bergaul dengan teman sebayanya sehingga pola perkembangan dirinya dapat tumbuh dengan baik. Sekolah rumah bukan berarti anak-anak dikungkung belajar di dalam rumah. Mereka bisa memelajari banyak hal di mana saja dan dari siapa saja.
Solusi yang dapat ditempuh yakni dengan mengintensifkan pendampingan orangtua pada anak. Jika kita mau memusatkan perhatian pada anak-anak, selama mereka terjaga dan beraktivitas, kita bisa dekat dengan anak-anak dan itu adalah cara belajar yang efektif. Namun, bukan berarti sosialisasi vertikal (lintas umur) berdampak buruk pada anak, justru dengan sosialisasi vertikal anak dipersiapkan untuk terjun ke dunia masyarakat nantinya.
Adapun, anak-anak homeschooling bersosialisasi secara vertikal, bertanggung jawab, mau melayani, serta hormat kepada orang yang lebih tua. Para peneliti ini akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa anak-anak homeschooling tidak memiliki masalah dalam sosialisasi. Mereka justru  memiliki yang lebih fleksibel untuk field trip, camping, olahraga, mau pun pergi ke tempat-tempat bersejarah untuk memelajari banyak hal. Mari kita bandingkan dengan sekolah formal. Apakah sekolah satu-satunya tempat anak untuk mengembangkan kemampuan bersosialisasi? Pengaruh lingkungan teman-teman sebaya yang negatif dapat berpengaruh buruk pada kepribadian anak nantinya. Pengaruh yang paling terlihat adalah bahasa dan sikap. Saat anak-anak bergaul dengan teman-teman yang biasa berkata baik, bahasa mereka biasanya terbentuk menjadi baik. Namun bersiaplah saat anak-anak bergaul dengan teman yang biasa berkata kotor dan kasar, mereka pun berpotensi untuk terbiasa berkata-kata yang sama. (www.kompas.com., 2011)
Karena itu, memilihkan lingkungan sosial yang sehat adalah tugas berat bagi orang tua masa kini. Karakter dan bahasa negatif tersebar terlalu merata. Televisi, keluarga besar, tetangga, kampung, dan bahkan sekolah pun tak dijamin bebas dari bahasa-bahasa negatif. Yang penting, kita perlu terus mengetahui apa yang terjadi dan terus mendampingi anak-anak selama masa belajar mereka. Jangan sampai anak-anak terjerumus pada pergaulan yang salah.

Penutup
Berdasarkan problematika mengenai sosialisasi anak homeschooling, terdapat beberapa solusi untuk menyelesaikan permasalahan tentang sosialisasi anak homeschooling, yakni;  Pertama, senantiasa mendampingi anak. Disini, orang tua juga berperan sebagai guru, sehingga orang tua harus bisa mengajarkan sosialisasi pada anak. Kedua, ikut sertakan anak dalam berbagai kegiatan seperti les balet, mengaji, kursus, dan sebagainya supaya kemampuan bersosialisasi horizontal anak semakin terasah dengan baik.

Daftar Pustaka
Afiqi, M.A. 2009. Makalah Homeschooling atau Sekolah Rumah. Diunduh di https://www.scribd.com/doc/24319706/Makalah-Home-Schooling-atau-Sekolah-Rumah tanggal 10 Oktober 2014

Kompas.com. 2011. Benarkah Anak HS Tak Bisa Bersosialisasi? . Diunduh di http://edukasi.kompas.com/read/2011/08/12/09574821/Benarkah.Anak.HS.Tak.Bisa.Bersosialisasi  tanggal 19 Oktober 2014

Saraswati, Widyasari. 2012. Homeschooling di Indonesia. Diunduh di http://informasitips.com/homeschooling-di-indonesia tanggal 9 Januari 2015
Sulistiani, Hani. 2012. Menelaah Keberadaan Pendidikan Karakter di Homeschooling. Diunduh di https://hanisulistiani.wordpress.com/2012/05/20/menelaah-keberadaan-pendidikan-karakter-di-homeschooling/ tanggal 8 Januari 2015
Alwi, Hasan. 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka
Mulyadi, Seto. 2007. Home Schooling Keluarga Kak-Seto: Mudah, Murah, Meriah, dan Direstui Pemerintah. Bandung: Kaifa

Munib, Achmad. 2012. Pengantar Ilmu Pendidikan. Semarang: UPT UNNES Press
Holt, John Cadlwell. 1964. How Children Fail. New York: Addison-Wesley Publishing Company

Republik Indonesia. 2003. Undang-Undang No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta